Tak Perlu Takut dengan Masker!

Bismillahirrahmanirrahim

Musim hujan masih melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Datangnya hujan kadang tidak terprediksikan, apakah siang, malam, atau bahkan dini hari. Banjir pun telah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, tidak terkecuali di beberapa daerah di kota Bandung.

Akibat dari hujan ini, disertai dengan daya tahan tubuh yang menurun, tak sedikit di antara kerabat, teman, atau bahkan kita sendiri yang mengalami flu, batuk, dan pilek. Hal ini memang tidak menyebabkan sesuatunya yang fatal dan mengancam jiwa, tetapi cukup untuk mengganggu produktivitas belajar dan kerja.

Namun demikian, di balik itu semua, sebenarnya ada satu hal yang patut untuk kita disyukuri, yaitu semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk memakai masker ketika sakit. Pemakaian masker tampak semakin sering terlihat terlihat di tempat-tempat umum. Tujuannya tentu baik, untuk mencegah penularan penyakit pada orang lain melalui udara.

Sayangnya, di sisi lain, masih ada sebagian orang yang menilai negatif pemakaian masker ini. Orang yang memakai masker acapkali dinilai sebagai pembawa penyakit menular yang sangat berbahaya, sehingga harus dijauhi. Belum lagi anggapan bahwa pemakaian masker ini identik dengan wabah flu burung. Semua hal tersebut dikhawatirkan malah membuat orang yang sakit merasa enggan untuk memakai masker. Padahal, pemakaian masker merupakan salah satu upaya yang sangat efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular, seperti influenza, tuberkulosis dengan dahak positif, dan sebagainya.

Penggunaan Masker untuk Kesehatan

Dalam dunia kesehatan sendiri, ada dua macam masker yang umum digunakan, yaitu masker biasa seperti disebutkan di atas, dan masker respirator N95. Masker biasa disebut juga dengan masker bedah (surgical mask). Disebut demikian karena masker ini biasanya dipakai oleh tenaga kesehatan ketika melakukan tindakan operasi. Efektif sebagai penghalang agar cairan atau sekret dari mulut dan hidung tidak mengontaminasi lingkungan sekitar. Begitu pun sebaiknya, cairan dari luar tidak masuk ke dalam.

Masker ini biasanya memiliki bagian luar berwarna hijau muda, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih. Pemakaiannya cukup mudah, dipasangkan dengan tali atau karet ke bagian belakang kepala atau telinga. Masker bedah dapat dengan mudah didapatkan di apotik atau toko kesehatan. Harga ecerannya pun tergolong murah, antara Rp1000–2000.

Yang perlu diperhatikan, masker bedah ini tidak didesain untuk menyaring partikel dan mikroorganisme yang berukuran sangat kecil, termasuk virus influenza dan bakteri tuberkulosis. Oleh karena itulah, orang sehat yang berada di lingkungan orang sakit tidak disarankan untuk memakai masker jenis ini. Cukup orang sakit saja yang memakainya.

Hal ini pernah disampaikan oleh Dedi Suyatno, dr., kepala Poliklinik DOTS Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dalam suatu perbincangan dengan penulis (Ket.: Poliklinik DOTS merupakan poliklinik yang melayani pemberian obat bagi pasien tuberkulosis). Masker bedah efektif digunakan oleh pasien karena dapat menyaring percikan air liur atau dahak yang dikeluarkan pasien. Beda halnya bila orang sehat yang memakai masker tersebut. Mikroorganisme yang berukuran sangat kecil dan melayang-layang di udara dapat terjebak di dalam pori-pori masker tersebut. Bila mikroorganisme tersebut terus berakumulasi, dapat terhirup dan dan pada akhirnya masuk ke dalam saluran pernafasan

Masker N95 untuk Orang Sehat

Nah, bila terjadi suatu kondisi ketika orang sakit tidak memungkinkan atau tidak bersedia memakai masker, orang sehat yang berinteraksi dengannya dapat menggunakan jenis masker yang kedua, yaitu masker respirator N95. Disebut N95 karena dapat menyaring hingga 95% dari keseluruhan partikel-partikel yang berada di udara. Bentuknya biasanya setengah bulat dan berwarna putih. Terbuat dari bahan yang solid dan tidak mudah rusak. Pemakaiannya pun harus benar-benar rapat, sehingga tidak ada celah bagi udara luar untuk masuk.

Masker N95 biasa digunakan oleh tenaga kesehatan di bagian penyakit infeksi dan menular. Masker ini jugalah yang oleh petugas peternakan ketika membersihkan kandang ayam yang terinfeksi flu burung. Saat terjadi tragedi letusan gunung merapi beberapa waktu yang lalu, para ahli juga merekomendasikan masker jenis ini untuk melindungi diri dari debu vulkanik dan bahan kimianya.

Hanya saja, masker N95 ini memiliki beberapa kekurangan. Bagi yang tidak terbiasa menggunakannya, mungkin akan merasa gerah dan sesak, sehingga hanya tahan beberapa jam saja memakainya. Untuk mendapatkan masker ini pun agak sulit, dengan harga yang relatif mahal pula, yakni 10–20 ribu per buahnya..

Oleh karena itu, bagi orang yang sedang sakit dan penyakitnya berpotensi menular melalui udara, sebisa mungkin diusahakan untuk memakai masker bedah. Masker ini tidak terlalu menimbulkan rasa gerah dan sesak. Bagi teman dan saudara kita yang sudah bersemangat untuk memakai masker, tentu harus didukung, bukannya malah dijauhi dan dikucilkan. Justru karena mereka memakai masker pulalah, seharusnya kita jauh merasa aman dan nyaman untuk berinteraksi dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: