Lima Salah Kaprah tentang Tuberkulosis

Bismillahirrahmanirrahim

Informasi: Tulisan ini dimuat di rubrik Cakrawala, Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi Kamis, 7 November 2013 (23 Zulhijjah 1434 H).

Tuberkulosis, tampaknya bukan merupakan kata yang asing di telinga kita. Mungkin pula kita pernah menemui tetangga atau saudara kita yang menderita penyakit ini. Tuberkulosis memang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, terutama di negara-negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar sepertiga penduduk dunia terkena infeksi tuberkulosis.

Sayangnya, bila diperhatikan, masih banyak anggapan di masyarakat yang keliru tentang Tb ini. Ini merupakan sesuatu yang perlu diluruskan, agar kita dapat menyikapi penyakit Tb dengan bijak dan tidak berlebihan. Juga agar kita dapat turut berperan serta dalam pengentasan tuberkulosis, terutama di Indonesia. Berikut lima anggapan keliru yang umumnya terjadi mengenai penyakit tuberkulosis.

  1. Tuberkulosis merupakan penyakit turunan

Tuberkulosis bukan merupakan penyakit yang dapat diturunkan secara genetis layaknya penyakit hipertensi, asma, atau diabetes. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis melalui perantara udara. Udara dapat tercemar kuman Tb dari percikan-percikan dahak yang dikeluarkan penderita Tb saat bersin, batuk, berbicara, atau berteriak.

Selain penyakit turunan, ada juga yang meyakini bahwa Tb merupakan penyakit kiriman atau guna-guna. Anggapan ini juga termasuk kekeliruan yang besar. Bila memang Tb adalah penyakit guna-guna, maka logikanya kuman M. tbc harus dikirimkan langsung pada orang yang menjadi target guna-guna. Pertanyaannya, dari mana si pengirim bisa mendapatkan kuman tersebut?

  1. Tuberkulosis hanya menyerang paru-paru

Sebagian besar kuman Tb memang mengenai organ paru-paru. Namun, organ ini bukan satu-satunya organ yang dapat diserang. Banyak organ lainnya yang dapat terkena. Yang paling sering adalah kelenjar getah bening, umumnya pada daerah leher. Ciri utama Tb jenis ini adalah timbulnya benjolan yang kerap disertai rasa nyeri.

Karena tidak di paru-paru, risiko penularan Tb jenis ini bisa dibilang sangat kecil. Apalagi untuk tuberkulosis yang terjadi di organ dalam, seperti tulang, abdomen, ginjal, otak, dan sendi.

  1. Tuberkulosis= “flek” = “paru-paru basah”

“Flek” maupun “paru-paru basah” sebenarnya adalah istilah awam yang di dalam ilmu medis tidak merujuk pada kelainan spesifik tertentu. Banyak penyakit-penyakit yang dapat menunjukkan gambaran seperti ini, baik penyakit menular maupun tidak menular. Biasanya gambaran ini tampak dalam pemeriksaan foto toraks (Roentgen).

Lebih dari itu, untuk menegakkan diagnosis Tb memang tidak bisa hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks semata. Standar internasional untuk menegakkan Tb adalah dengan pemeriksaan sputum (dahak) yang dilakukan sebanyak tiga kali. Dari sini dapat diketahui apakah kuman Tb-nya negatif atau positif.

Pada sedikit kasus, meski hasil dahak menunjukkan negatif, diagnosis Tb tetap dapat ditegakkan berdasarkan hasil foto toraks. Ini bila foto toraks menunjukkan gambaran tuberkulosis yang sangat khas, ditunjang dengan pemeriksaan lainnya yang memunculkan dugaan kuat Tb. Inilah yang disebut dengan Tb paru dengan dahak negatif.

  1. Tuberkulosis tidak dapat diobati

Sebaliknya, Tb merupakan penyakit yang dapat diobati sampai dengan tuntas, tentu dengan izin Allah Subhanu Wa Ta’ala. Obat yang harus diminum penderita Tb sudah terstandarisasi secara internasional, dan tidak ada perbedaan antara Tb paru dan ekstraparu.

Hanya saja, karena sifat alami dari kuman M. tbc ini, pengobatan tuberkulosis tidak seperti pengobatan lainnya yang membutuhkan waktu relatif singkat. Dibutuhkan waktu selama minimal enam bulan untuk menjalani pengobatan sampai tuntas. Ini agar kuman Tb benar-benar habis atau tertekan sampai kadar yang sangat minimal, sehingga tidak lagi dapat menimbulkan kekambuhan di waktu mendatang.

  1. Penderita Tb harus dijauhi dan dikucilkan

Justu karena waktu pengobatan yang harus dijalani cukup lama, penderita Tb saat membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, terutama dalam bentuk dukungan moral. Pengucilan dikhawatirkan akan menimbulkan stres dan depresi bagi penderita yang pada akhirnya dapat menghambat kesembuhan.

Nah, agar komunikasi tetap dapat terjalin dengan aman tanpa risiko penularan, penderita Tb, dalam hal ini Tb paru, sangat dianjurkan untuk memakai masker atau pelindung wajah ketika berinteraksi dengan orang lain. Masker atau pelindung ini perlu digunakan sampai setidaknya dua minggu pengobatan. Setelah dua minggu, biasanya kuman Tb sudah tertekan sampai pada kadar yang diharapkan tidak menular pada orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: