BERSIH, untuk Bandung yang Bersih

Bismillahirrahmanirrahim

Bagi pelajar, mahasiswa, guru, atau dosen yang sudah lama tinggal di kota Bandung tentu masih ingat dengan sebuah slogan untuk kota ini yang disebut dengan Bandung Berhiber (Bandung Bersih, Hijau, Berbunga). Slogan ini tentu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Bandung merupakan kota yang nyaman dan asri, baik bagi penduduknya maupun warga yang datang berkunjung. Dahulu, kita dapat dengan mudah menemukan pepohonan yang rindang dan teduh di kota ini. Udara pun berhawa sejuk dan begitu menyegarkan, terutama saat pagi hari.

Namun sayangnya, Bandung yang sekarang mungkin sudah tidak Berhiber lagi. Banyak yang mengeluhkan kekotoran dan kekumuhan di berbagai sudut kota Bandung. Juga hawa yang semkin memanas dan terasa gersang, bahkan ketika pagi hari. Belum lagi berbagai macam polusi yang semakin bertambah dari hari ke hari. Maka wajar bila pemerintah kota Bandung menjadikan pembangunan dalam bidang lingkungan, dan juga kesehatan, dalam dua dari tujuh agenda yang tercantum dalam 7 Agenda Program Prioritas Pembangunan Kota Bandung untuk tahun 2008–2013.

Bagi kita sebagai penduduk kota Bandung, ada hal-hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mewujudkan Bandung yang kembali Berhiber, terutama dalam hal kebersihan. Selain untuk kebersihan, hal ini juga dapat turut membantu meningkatkan kesehatan lingkungan di kota Bandung ini. Agar mudah diingat, digunakan singkatan BERSIH untuk menyingkat hal-hal yang meliputi kelima perilaku berikut ini.

  1. Biasakan cari tempatnya sebelum membuang sampah. Sampah, sekecil apapun, tetap merupakan sebuah pencemaran lingkungan bila dibuang sembarangan. Pun dapat menjadi medium penyebaran penyakit oleh kuman, terutama yang terkait dengan sistem pencernaan, seperti diare. Sampah yang sudah membusuk dapat menjadi ‘santapan’ lalat dan sejenisnya, dan kuman-kuman yang terkandung di dalamnya dapat ditularkan ke dalam makanan dan minuman bersih yang akan dikonsumsi. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita untuk selalu mencari tempat terlebih dahulu ketika akan membuang sampah. Bila memang sulit ditemukan, alangkah baiknya bila disimpan terlebih dahulu di dalam tas atau kantong untuk sementara waktu.

  2. Empati sebelum merokok. Adanya wacana penyusunan Perda pelarangan merokok di tempat umum beberapa waktu lalu menuai beragam pro dan kontra bagi masyarakat. Padahal, hal ini semestinya didukung untuk mengurangi paparan negatif asap rokok terhadap perokok pasif. Bahkan seorang perokok pasif pun berpotensi banyak mengalami buruk asap rokok yang tidak kalah banyak dibandingkan dengan perokok aktif. Belum lagi adanya sampah berupa serbuk-serbuk hasil pembakaran rokok yang dapat mengotori lingkungan.

  3. Rawat kebersihan hewan piaraan, semisal burung, ayam, atau kucing. Bagi unggas seperti ayam, lebih baik bila dikandangkan saja dan tidak dibiarkan berkeliaran di jalanan, mengingant kotorannya dapat terbuang di mana saja. Untuk kandang burung, agar tidak diletakkan tepat di atas jalanan tempat orang-orang melintas, karena kadang tercium bau tidak sedap dari kandang burung tersebut, entah dari kotorannya atau hal-hal lainnya. Dan juga bagi hewan piaraan seperti kucing agar diperhatikan untuk tidak membuang kotoran di sembarang tempat. Selain tidak bersih, bisa juga menjadi media penyebaran penyakit yang disebabkan oleh parasit.

  4. Stop buang air di sembarang tempat . Ini masih terkait dengan poin ketiga di atas. Bila hewan piaraan mungkin masih dianggap biasa bila buang kotoran di sembarang tempat, pada manusia tentu sebaiknya tidak dianggap biasa pula. Fenomena ini kerap kita temui sehari-hari, semisal bau pesing yang tercium di jembatan penyeberangan, trotoar, halte-halte, hingga terminal dan stasiun. Kesan yang muncul tentu adalah kesan jorok dan tidak sehat. Ini juga bisa menjadi media penyebaran penyakit. Kencing secara alamiah memang mengandung berbagai macam mikroorganisme, dan ketika kencing tersebut sudah mengering, mikroorganismenya dapat beterbangan ke udara dan terhirup oleh hidung.

  5. Ingat dan Hindari tercemarnya udara oleh penyakit. Yang dimaksud di sini terutama untuk penyakit-penyakit yang dapat disebarkan melalui udara, seperti misalnya influenza. Apalagi belakangan ini cuaca sering berubah-ubah drastis, dari panas menjadi hujan. Risiko mengalami batuk, pilek, dan flu menjadi meningkat. Bagi penderita penyakit ini, sebaiknya agar membuang dahak dan ingus tidak di sembarang tempat. Selain mencegah lingkungan menjadi kotor, hal ini juga dapat mencegah penularan penyakit pada orang lain. Dianjurkan juga untuk memakai tisu atau sapu tangan ketika bersin atau batuk. Terakhir, memakai masker merupakan sesuatu yang juga dianjurkan ketika sedang flu.

Demikianlah beberapa hal yang disingkat menjadi BERSIH yang dapat dilakukan sehari-hari untuk membantu mewujudkan kembali kota Bandung yang bersih. Sepertinya tidak akan ada biaya yang dikeluarkan untuk hal-hal ini, atau kalaupun ada, tidak akan terlalu besar. Tentu kita semua merindukan bahwa Bandung akan dapat kembali menjadi kota yang bersih dan asri seperti dulu. Semoga slogan Bandung Berhiber bisa kembali ‘bergelora’ di kota tercinta kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: