Bahkan Tumbuhan pun “Bersilaturahmi”

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak dahulu, momen ldul Fitri jamak digunakan masyarakat Indonesia untuk melakukan silaturahim kepada kerabat dan teman-teman, baik yang dekat maupun yang jauh. Salah satu cara yang banyak diberitakan adalah dengan melaksanakan mudik. Tak sedikit orang yang telah membeli tiket transportasi mudik sejak jauh hari sebelum lebaran tiba. Semuanya dilakukan dengan alasan utama untuk bersilaturahim kepada kerabat nun jauh di sana.

Silaturahmi, secara harfiah bermakna menyambung tali persaudaraan atau menyambung kasih sayang. Pada praktiknya, kegiatan yang dilakukan saat silaturahim biasanya adalah saling meminta maaf, menanyakan kabar atau keadaan, dan saling membagi informasi dari tempat asalnya masing-masing. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa silaturahim merupakan bagian dari komunikasi.

Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam hidup seseorang. Beragam aspek dapat menjelaskan pentingnya komunikasi ini. Dalam aspek kedokteran, contohnya, pentingnya komunikasi dapat dilihat pada hubungan antara pasien dan dokter. Tidak sedikit kasus malapraktik yang terjadi akibat komunikasi yang tidak baik antara kedua elemen tersebut. Pasien yang tidak menyebutkan keluhan dengan tepat, atau dokter yang tidak menjelaskan metode pengobatan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pasiennya, merupakan sedikit contoh tidak baiknya komunikasi yang dapat menimbulkan dampak buruk.

Saking pentingnya komunikasi, kegiatan ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh manusia. Hewan dan tumbuhan pun ternyata melakukan komunikasi. Mereka melakukannya dengan berbagai cara yang dapat membuat kita merasa takjub.

Komunikasi ala hewan dan tumbuhan

Contoh hewan yang sering disebutkan pandai berkomunikasi adalah semut. Sering kita dengarkan, dan kita amati sendiri, bahwa mereka selalu bersalaman setiap kali bertemu. Beragam penelitian menunjukkan bahwa metode ini merupakan salah satu cara bagi mereka untuk saling membagi informasi. Informasi ini berasal dari kejadian-kejadian yang telah dilewati oleh mereka, dan dapat meliputi informasi sumber makanan, atau bahaya yang ada di jalan.

Tumbuhan pun ternyata melakukan komunikasi satu sama lainnya. Dikutip dari laman Medical Daily, sebuah penelitian berhasil mengungkap adanya komunikasi antara satu tanaman dengan tanaman lainnya melalui suara “klik”. Penelitian ini dipublikasikan oleh Trends in Plant Science. Peneliti berhasil mendengarkan suara “klik” yang muncul dari akar tunas jagung, yang didengarkan melalui pengeras suara yang sangat kuat. Terbukti juga bahwa tunas jagung menunjukkan respons terdahap suara “klik” yang datang kepadanya. Ketika tunas jagung dialirkan dengan suara yang berfrekuensi sama dengan suara “klik” tanaman secara terus menerus, tunas jagung tersebut tumbuh menghadap ke arah sumber suara “klik” tersebut.

Foto: Ted Garvin (karya pribadi) [CC-BY-SA-2.5 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.5) ], via Wikimedia Commons.

Peneliti menduga bahwa suara merupakan salah satu cara bagi tumbuhan untuk saling membagi informasi tentang lingkungan sekitar mereka. Dengan demikian, hal ini sangat penting bagi kelangsungan hidup tanaman tersebut.

Masih dari laman yang sama, disebutkan bahwa sebelumnya telah dilakukan suatu penelitian yang membutikan adanya komunikasi antartanaman dengan menggunakan gas. Penelitian ini dilakukan oleh Exeter University. Diketahui bahwa tanaman kubis mengeluarkan gas methyl jasmonate ketika permukaannya terpotong atau terluka, misalnya akibat termakan ulat bulu. Gas ini menjadi semacam peringatan bagi “teman-teman” di sekitarnya. Tanaman di sekitarnya kemudian merespons hal tersebut dengan cara memproduksi bahan-bahan kimia toksik sebagai perlindungan dari ancaman tersebut.

Subhanallah. Demikianlah sebuah pelajaran berharga yang ditunjukkan oleh tanaman kepada kita mengenai pentingnya “silaturahim”. Oleh karena itu, sudah sepantasnya agar kegiatan silaturahim tidak hanya dikhususkan pada saat momen lebaran saja, sebagaimana yang sering dikatakan sebagian orang, “Kenapa maaf-maafan, memangnya sedang lebaran?” Yang tepat adalah, tidak perlu menunggu sampai lebaran tiba untuk sekadar meminta maaf, menanyakan kabar, atau saling membagi informasi pada kerabat dan teman-teman.

N.B.: Tulisan ini dibuat sekitar satu tahun yang lalu. Namun rasanya tetap relevan untuk di-pulish.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: