Antara Membakar BBM dan Membakar Kalori

Bismillahirrahmanirrahim

Informasi: Tulisan ini dimuat di rubrik Mimbar Akademik, Kampus, Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi Kamis, 2 Mei 2013 (21 Jamadil Akhir 1434 H).

Akhir-akhir ini media massa marak memberitakan rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah menaikkan harga BBM dari Rp4500/liter menjadi Rp 6500/liter untuk kendaraan plat hitam. Sementara kendaraan plat kuning seperti angkutan umum tidak dikenakan kenaikkan harga. Kenaikan harga BBM diharapkan dapat menekan penggunaan BBM bersubsidi yang telah jauh melampaui kuota dan menghemat anggaran negara sebesar 21 triliun rupiah (pikiran-rakyat.com).

Sebagai mahasiswa dan pelaku aktivitas pendidikan, sedikit banyak tentu kita turut memberikan sumbangsih terhadap penggunaan BBM bersubsidi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya saja penggunaan kendaraan umum dan pribadi saat menuju ke kampus. Tidak jarang ada mahasiswa yang beberapa kali bolak balik ke kampus dalam sehari menggunakan kendaraan pribadi karena jadwal kuliah dan aktivitas ekstrakurikuler yang padat.

Bila kita coba hitung secara kasar penggunaan BBM bersubsidi oleh sepeda motor saja, akan didapatkan jumlah yang lumayan besar. Misal diasumsikan bahwa jarak rata-rata antara tempat tinggal mahasiswa dan kampus sejauh lima ratus meter, atau pulang pergi sejauh satu kilometer. Dengan demikian, untuk keperluan sehari pulang pergi ke kampus membutuhkan bahan bakar sekitar 0,1 liter (1 liter BBM untuk 10 km). Bila dalam satu kampus saja ada seribu mahasiswa yang menggunakan motor, maka setiap harinya akan habis terbakar sebanyak seratus liter BBM. Dalam setiap bulannya akan ada tiga ribu liter BBM yang terpakai, atau bila diuangkan sebesar 13,5 juta rupiah (Rp4500/liter).

Berjalan Kaki, Hemat BBM sekaligus Membakar Kalori

Untuk turut berupaya menghemat penggunaan BBM, sebagai mahasiswa tentu ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan. Misalnya saja, ada sebagian mahasiswa yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dalam melakukan aktivitas perkuliahan. Selain dapat menghemat bensin, bersepeda pun dapat membantu menyehatkan badan. Di samping bersepeda, ada satu lagi aktivitas yang dapat dengan mudah dilakukan, yakni berjalan kaki. Sama seperti dengan bersepeda, kegiatan ini juga memilki manfaat penting bagi kesehatan.

Para ahli telah lama menyatakan bahwa berjalan kaki merupakan salah satu jenis aktivitas olahraga yang bermanfaat besar, namun sangat mudah dilakukan. Aktivitas ini tidak membutuhkan peralatan yang spesial dan khusus, serta dapat dilakukan di mana saja. Di jalan raya, tempat umum, gedung kuliah dan lain sebagainya, kegiatan ini dapat dilakukan. Risiko cedera yang ditimbulkannya pun sangatlah minim.

Manfaat utama berjalan kaki adalah membakar energi berlebih dari tubuh kita. Energi tersebut dihasilkan dari makanan sehari-hari, baik dari karbohidrat, lemak, dan protein. Bila tidak digunakan untuk melakukan aktivitas, energi akan ditimbun di dalam tubuh, terutama dalam bentuk lemak. Timbunan yang berlebihan dapat mengakibatkan kegemukan dan obesitas. Selain membakar kalori, berjalan kaki pun memiliki beberapa manfaat lainnya, di antaranya untuk menguatkan otot-otot tubuh, melatih pernafasan dan jantung, serta menyegarkan otak dan pikiran.

Jumlah kalori yang terbakar selama aktivitas berjalan kaki bergantung beberapa hal, di antaranya kecepatan dan waktu berjalan kaki. Sebagai gambaran sederhana, dalam Noom’s Weigh Loss Coach, sebuah aplikasi program menurunkan berat badan, disebutkan bahwa berjalan kaki sejauh satu kilometer dapat membakar sebanyak 53 kalori. Jumlah tersebut tentu tidak sedikit, apalagi bila kita sering mengonsumi makanan-makanan yang padat kalori. Bila rutin dilakukan setiap hari, maka selama sebulan terbakar sebanyak 1500 kalori, dan dari 1000 mahasiswa akan ada 1,5 juta kalori yang terbakar.

Kendala dalam Berjalan Kaki

Meskipun demikian, terdapat beberapa rintangan yang harus dihadapi oleh pejalan kaki. Misalnya saja, lahan trotoar yang dipakai parkir motor atau ditempati pedagang kaki lima. Juga kontur jalan yang tidak rata dan berlubang. Belum lagi di saat musim hujan seperti sekarang, risiko badan kebasahan jika lupa membawa payung. Namun demikian, semoga kondisi-kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat kita untuk tetap rutin berjalan kaki. Di sisi lain, semoga pihak yang berwenang dapat semakin berusaha menyediakan fasilitas berjalan kaki yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: