Antara Berat Badan dan Shaum Ramadan

Bismillahirrahmanirrahim

“Waduh, berat badan malah naik nih saat bulan puasa.” Keluhan seperti ini mungkin sudah sangat sering kita dengarkan, baik dari saudara, orang tua, tetangga, sampai teman-teman kita. Padahal, jauh-jauh sebelumnya, mereka sudah meniatkan bulan tersebut sebagai “bulan menurunkan berat badan”. Eh, yang terjadi malah sebaliknya.

Pandangan umum di masyarakat saat ini adalah puasa dapat menjadi sarana untuk menurunkan berat badan. Logikanya sederhana: ketika bulan Ramadhan, frekuensi makan menjadi lebih sedikit, maksimal dua kali sehari. Lebih-lebih lagi, jadwal makan yang ditiadakan adalah jadwal makan siang, yang notabene merupakan jadwal makan yang paling ‘berisi’. Logika tersebut sebenarnya bisa diterima dari sisi kesehatan. Penjelasannya dapat ditinjau dari aspek keseimbangan energi dan metabolisme tubuh.

Kelebihan berat badan, atau kegemukan, dapat timbul ketika terjadi ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluran energi di dalam tubuh. Selama kedua hal tersebut berjalan seimbang, berat badan kita akan tetap ideal. Komponen terbesar asupan energi adalah makanan, sedangkan komponen terbesar pengeluaran energi adalah aktivitas fisik.

Glukosa sebagai Sumber Energi Utama Tubuh

Secara garis besar, makanan yang kita asup mengandung komponen karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa yang berperan sebagai sumber energi utama tubuh, yakni digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bila tubuh mengalami kelebihan glukosa, maka akan disimpan di dalam jaringan otot dan hati dalam bentuk glikogen. Simpanan ini akan digunakan ketika tubuh memerlukannya. Sementara itu, lemak disimpan di dalam jaringan adiposa, dan berfungsi di antaranya sebagai cadangan sumber energi tubuh.

Saat berpuasa, tubuh mengalami kekurangan glukosa. Dalam kondisi ini, simpanan glukosa di dalam jaringan akan digunakan sebagai sumber energi tambahan. Bila tubuh masih kekurangan juga, lemak yang terdapat di dalam jaringan adiposa akan turut digunakan. Akibatnya, massa jaringan tersebut akan berkurang, dan akan berpengaruh terhadap berat badan seseorang. Jadi, dengan asupan makanan yang lebih sedikit dan aktivitas fisik yang semestinya tidak banyak mengalami penurunan, puasa sebenarnya dapat membantu menurunkan berat badan, atau setidaknya memeliharanya tetap ideal.

Mencermati Fenomena di Masyarakat

Akan tetapi, bila diperhatikan lebih jauh, terdapat beberapa fenomena di masyarakat yang justru mendukung terjadinya pertambahan berat badan atau kegemukan saat bulan Ramadhan. Berikut penulis paparkan beberapa fenomena tersebut.

Pertama, dari sisi ekonomi, banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan pengeluaran rumah tangganya yang membengkak saat memasuki bulan Ramadhan. Loh, bukankah seharusnya menjadi berkurang, karena frekuensi makannya hanya dua kali? Dari sini terlihat bahwa ketersediaan makanan pada saat bulan puasa makin bertambah, meski sekali lagi, frekuensi ‘makan nasi’-nya hanya dua kali saja.

Kedua, sejatinya frekuensi makan justru meningkat. Ini terkait dengan kultur di Indonesia yang meyakini bahwa yang disebut dengan makan adalah makan dengan nasi. Sementara yang lainnya, tidak dihitung. Bila kita hitung, selain makan nasi, berapa kali kita makan selama bulan Ramadhan? Dimulai dari makan saat berbuka, setelah shalat Maghrib, setelah tarawih, dan sahur. Itu saja sudah terhitung empat kali. Kebanyakan, kalau tidak semuanya, makanan yang dimakan di atas mungkin banyak mengandung karbohidrat dan lemak, meski bukan dalam bentuk nasi. Dengan demikian, yang sebenarnya terjadi adalah kenaikan asupan energi, bukan malah sebaliknya.

Ketiga, jadwal makan yang tidak sehat. Misalnya, setelah selesai makan malam langsung tidur. Begitu pun dengan sahur. Bangun jam dua malam, dan setelah itu tidur kembali. Aktivitas tidur yang dilakukan setelah makan dapat menghambat penggunaan bahan-bahan makanan sebagai sumber energi, dan malah menimbunnya di jaringan-jaringan tubuh.

Keempat, berkurangnya aktivitas fisik. Salah satunya terkait dengan poin ketiga di atas. Dikarenakan makan sahurnya terlalu pagi, maka ketika siang hari menjadi mudah lelah. Berkurangnya aktivitas berarti semakin berkurang pula pengeluaran energi oleh tubuh.

Terjadi Ketidakseimbangan Energi

Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi. Jika asupan makanan semakin banyak, sementara pengeluaran energinya justru berkurang, akan banyak sumber energi yang disimpan di dalam jaringan. Simpanan tersebut akan terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya makanan yang masuk ke perut kita. Glukosa yang sudah tidak mungkin lagi disimpan di dalam jaringan hati dan otot akan turut disimpan di dalam jaringan lemak. Akibatnya, berat badan akan bertambah.

Meski demikian, perlu ditekankan kembali, bahwa puasa sebenarnya dapat menjadi sarana untuk menurunkan berat badan, namun perlu dilakukan dengan tepat. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk mengurangi asupan makanan selama bulan puasa, di samping juga untuk tidak mengendurkan aktivitas fisik. Yang lebih penting dari itu adalah tetap meluruskan niat. Tetap niatkanlah puasa sebagai ibadah hanya kepada-Nya, bukan yang lain. Jadikanlah tujuan yang lain sebagai pengikut saja. Selamat menurunkan berat badan melalui puasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: