Tuberkulosis, Tidak Hanya Menyerang Paru

Bismillahirrahmanirrahim

Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar tentang penyakit tuberkulosis, atau sering juga disingkat Tbc atau Tb. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. Tbc). Kuman ini pada umumnya menyerang organ paru-paru. Seseorang yang menderita Tb paru dapat menularkan penyakitnya ketika bersin, batuk, atau berbicara, dalam bentuk percikan yang mengandung ribuan kuman. 

Tidak otomatis seseorang yang kontak langsung dengan penderita Tb akan tertular. Lamanya menghirup udara dan banyaknya konsentrasi kuman dalam udara akan sangat menentukan. Ketersediaan sinar matahari langsung dapat membunuh kuman tersebut, sementara ventilasi yang cukup akan mampu mengurangi jumlah konsentrat kuman (Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, 2011).

Namun, ternyata tuberkulosis juga dapat menyerang organ selain paru-paru. Inilah yang disebut dengan dengan Tb ekstraparu. Angka kejadian Tb ekstraparu bervariasi antardaerah, meskipun secara umum disebutkan bahwa kejadian Tb ekstraparu lebih rendah dibandingkan dengan Tb paru.

Banyak sekali organ selain paru-paru yang dapat teserang kuman M. Tbc ini. Organ yang paling sering terkena adalah kelenjar limfe. Tuberkulosisnya disebut dengan Tb limfadenitis. Kelenjar limfe terdapat di banyak tempat di tubuh kita, dari mulai sekitar leher, ketiak, selangkangan, dan lain-lain. Kelenjar limfe yang paling umum terkena adalah kelenjar limfe sekitar leher. Selain kelenjar limfe, organ lain yang juga dapat terkena Tb adalah tulang & sendi, selaput otak, abdomen (perut), perikardium, kulit, serta saluran kemih & kelamin (Davies, Extra-pulmonary Tuberculosis).

Tb Ekstraparu: Tanda, Gejala, serta Pengobatannya

Keluhan yang dialami penderita Tb ekstraparu sangat bergantung pada organ apa yang terserang oleh kuman tersebut. Penderita Tb limfadenitis biasanya mengeluhkan rasa nyeri dan pembengkakan pada kelenjar limfe. Penderita Tb tulang belakang, atau disebut dengan Tb spondilitis, seringkali mengalami perubahan bentuk yang abnormal pada tulangnya. Sementara itu, nyeri dada biasanya dialami pada penderita Tb selaput paru-paru (Tb pleuritis). Pada penderita Tb selaput otak, atau disebut dengan Tb meningitis, biasanya dialami keluhan kaku kuduk pada leher. Untuk menegakkan diagnosis pasti, dibutuhkan pemeriksaan klinis, bakteriologis, dan atau histopatologis yang diambil dari organ yang terkena Tb terlebih dahulu (Pedoman Nasional Penganggulangan Tuberkulosis, 2011).

Pengobatan pada penderita Tb Ekstraparu secara umum sama dengan penderita Tb Paru, kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang membutuhkan pengobatan lebih lama dan jenis obat yang berbeda. Pengobatan memerlukan waktu selama minimal enam bulan, yang terbagi ke dalam dua fase, yakni fase intensif dan fase lanjutan. Fase intensif berlangsung pada dua bulan pertama, sedangkan fase lanjutan pada empat bulan selanjutnya. Pada fase intensif, terdapat empat jenis obat yang harus diminum satu kali setiap hari, yakni rifampisin, isoniazid, pyrazinamide, dan ethambutol. Sementara pada fase lanjutan, obat yang dimimun hanya isoniazid dan rifampisin saja sebanyak tiga kali dalam satu minggu.

Mengingat cukup lamanya waktu yang diperlukan dalam pengobatan, penderita Tb esktraparu tentu sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan tempat tinggalnya, terutama keluarga dan tetangga sekitar. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita menjauhi penderita Tb ekstraparu dan mengucilkannya dari pergaulan masyarakat. Lebih-lebih lagi, Tb ekstraparu tidaklah menular melalui udara seperti halnya Tb paru. Justru sebaliknya, menyemangati mereka minum obat, dan turut serta mengawasi, adalah hal yang sangat diperlukan untuk mereka.

Terakhir, diperlukan upaya bersama dari kita semua untuk ikut memberantas penyebaran penyakit Tb di Indonesia. Bagi diri kita pribadi, hal yang utama adalah untuk menjaga kekebalan tubuh. Untuk hal itu, perlu diterapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya meliputi makan teratur yang cukup gizi dengan menu berimbang, menjaga kebersihan diri dan lingkungan hidup, berolahraga dengan baik dan teratur, tidak merokok dan minum alkhohol, serta tidur dan istirahat yang cukup. Lebih penting dari itu semua adalah untuk senantiasa berdoa memohon kesehatan dan perlindungan dari penyakit pada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: